Rindu Pantai
Beberapa hari yang lalu, suamiku mengeluhkan memori smartphone miliknya yang mulai kepenuhan, sambil mengutak atik gallery foto. Setelah beberapa saat, "Oalah bun, pantesan, lha ini banyak banget foto-foto kita pas masih sering rekreasi dulu, hehe". Aku ikut ketawa, "Iya ya, dulu sering rekreasi. Sekarang jarang banget, kasian deh kita. Sini, pinjem hapenya ay".
Benar saja, ratusan foto dengan ukuran tiap file lebih dari 2 MB memenuhi gallery. Tanganku mulai berselancar menjelajah foto-foto kenangan. Hmm..kebiasaan suami kalau disuruh moto, selalu pilih yang sekali jepret dapet 10 foto tuh..apa sih namanya ya?haha.. Pantesan hape dia mulai protes.
Lalu, mataku terhenti pada beberapa foto yang seketika membawa diriku kembali ke 3,5 tahun yang lalu. Foto ketika kami mengunjungi pantai Sadranan, Gunung Kidul, Jogjakarta. Dan seperti biasa, secuil foto saja sudah mampu membawa pikiranku mengembara melintasi ruang dan waktu. Tanpa sadar, aku mulai tenggelam dalam lamunan. Untung si kecil waktu itu sedang asyik menggambar, jadi dia tidak protes, hihi.
Tiap mengenang kota Jogjakarta selalu membuatku mellow. Pertengahan tahun 1995, kakak pertamaku memutuskan untuk melanjutkan studi di kampus tertua di kota gudeg itu. Sejak itu aku mulai mencintai Jogjakarta. Kearifan lokalnya begitu terasa, membuatku selalu feel at home setiap berkunjung kesana.
Tiap mengenang kota Jogjakarta selalu membuatku mellow. Pertengahan tahun 1995, kakak pertamaku memutuskan untuk melanjutkan studi di kampus tertua di kota gudeg itu. Sejak itu aku mulai mencintai Jogjakarta. Kearifan lokalnya begitu terasa, membuatku selalu feel at home setiap berkunjung kesana.
![]() |
| keliling kampus selepas wisuda kakak |
Hari kedua, kami memutuskan untuk mengunjungi pantai. Terserah pantai mana saja, pokoknya pantai. Alasanku, si kecil belum pernah ke pantai sama sekali selama 2,5 tahun dia melihat dunia, jadi ya ini momen yang pas untuk mengenalkannya dengan pantai. Penasaran, bagaimana ekspresi wajahnya ketika dikejar-kejar ombak kecil.
Akhirnya, setelah perdebatan yang cukup panjang di sepanjang perjalanan, pilihan kami jatuh ke pantai Sadranan. Lokasinya berbatasan dengan pantai Slili dan Ngandong. Tidak seperti saat ini, waktu itu pantai Sadranan belum dibuka untuk fasilitas snorkling, sehingga masih cukup sepi. Seperti dugaan kami, awalnya si kecil takut demi melihat air laut. Akhirnya suamiku menggendongnya dan membawa dia berjalan-jalan di sepanjang pantai. Pemanasan dulu...Daann...lama-lama dia minta diturunkan. Begitu kaki kecilnya menginjak pasir putih nan hangat, senyum mulai merekah di wajahnya. Terlebih ketika deburan ombak menyapu kakinya, wah, nikmat sekali melihatnya bahagia.
Sayangnya, hingga saat ini kami belum berkesempatan pergi ke pantai itu lagi. Padahal ingin sekali telinga ini kembali mendengarkan damainya suara deburan ombak, kakiku kembali merasakan sensasi hangat pasir putihnya, atau sekedar membiarkan ujung jilbabku berkibar-kibar terkena angin laut. Lagipula, waktu itu kami hanya punya smartphone biasa, yang kameranya masih 5 MP, hihi..pun juga belum dilengkapi fitur bokeh, jadi ya..foto-fotonya jadi terkesan biasa saja. Pingin donk momen-momen yang terabadikan bisa terlihat kece, seperti foto-foto yang sliweran di feed IG.
Sayangnya, hingga saat ini kami belum berkesempatan pergi ke pantai itu lagi. Padahal ingin sekali telinga ini kembali mendengarkan damainya suara deburan ombak, kakiku kembali merasakan sensasi hangat pasir putihnya, atau sekedar membiarkan ujung jilbabku berkibar-kibar terkena angin laut. Lagipula, waktu itu kami hanya punya smartphone biasa, yang kameranya masih 5 MP, hihi..pun juga belum dilengkapi fitur bokeh, jadi ya..foto-fotonya jadi terkesan biasa saja. Pingin donk momen-momen yang terabadikan bisa terlihat kece, seperti foto-foto yang sliweran di feed IG.
![]() |
| saat semua tidak sadar kamera |
Selain itu, kebiasaanku dari dulu adalah hobi multitasking. Entah di laptop atau di hape, selalu berasa enjoy kalo bisa memainkan banyak task dalam satu waktu, dan dalam waktu yang lama. Jadi kalau tiba-tiba hapeku hang atau low battery di saat genting, level emosiku bisa mendadak naik. Definitely, diriku butuh smartphone dengan baterai yang tahan lama.
Ah, pingin sekali bisa punya handphone yang bisa memenuhi semua kebutuhanku itu. Terlebih kalau desainnya stylish dan warnanya cantik! Eh tapi yang terpenting, harganya juga terjangkau. Maklum lah ya,emak emak irit.
Usut punya usut, dibantu oleh suami, akhirnya kami menemukan smartphone yang menawarkan segala yang aku inginkan, yaitu Asus Zenfone Live L1. Asus Zenfone merupakan model smartphone Android yang diusung oleh Asus sejak 2014, dimana para pendahulunya adalah Asus Zenfone 4, 5 dan 6.
Kenyamanan visual
Smartphone ini memiliki empat warna, yaitu midnight black, space blue, shimmer gold dan rose pink. Wow..pink nya cukup menggoda. Seperti smartphone jaman now lainnya, Asus Zenfone Live L1 memiliki layar bezel-less dengan dimensi 5,5 inch (1440 x 720 pixel) full view display dan rasio 18:9. Bakal asyik banget menonton film atau bermain game di hape ini. Selain itu, dengan bodi 5 inch dan berat hanya 140 gram, smartphone ini praktis dimasukkan ke dalam kantong.
| https://www.asus.com/Phone/ZenFone-Live-L1/ |
Hi-Res Camera
Kualitas fotografi yang dihasilkan super premium. Smartphone ini memiliki kamera belakang 13 MP (f/2.0) yang dilengkapi dengan fitur PDAF (phase detection auto focus). Dengan kata lain, mengambil obyek bergerak dengan kamera ini oke banget deh. Sedangkan kamera depannya berkapasitas 5 MP yang dilengkapi LED softlight. Beberapa fitur yang menempel pada kamera ini antara lain Auto, HDR Pro, Beautification (biar wajah terlihat lebih kinclong), Portrait Mode (ini nih efek bokehnya), Panorama dan Time Lapse.![]() |
| View belakang rumah |
![]() |
| Ponakan yang nggemesin |
Long-lasting battery
Asus mengklaim bahwa smartphone model ini dapat bertahan selama 42 hari dalam mode standby. Wuih, mantap. Yaa walaupun nggak mungkin banget aku membiarkan hape bagus ini dalam kondisi stand by terus, tapi setidaknya inilah smartphone yang mampu menjawab kebutuhanku soal baterai yang awet. Sebuah review mengatakan bahwa hanya 18% baterai yang digunakan untuk menonton film berdurasi 1,5 jam. Kapasitas baterainya 3000 mAh sih..ya wajar kalo kuat dibuat begadang..hihi.| https://www.asus.com/Phone/ZenFone-Live-L1/ |
Prosesor dan Penyimpanan
Asus Zenfone Live L1 menggunakan prosesor quad-core Qualcomm Snapdragon 425. Ada 2 pilihan memori, yaitu RAM 3 GB internal 32 GB dan RAM 2 GB internal 16 GB. Bagiku itu sudah cukup banget mewadahi aktifitas seharian. Tapi kalau masih butuh penyimpanan yang lebih besar, gampaang, bisa ditingkatkan dengan MicroSD hingga 2TB.Smartphone ini memang termasuk entry level, terlihat dari harga yang ditawarkan. Justru itulah yang membuat daku kepincut! Emak irit ini masih tetap bisa ngeksis dengan smartphone canggih seharga tidak lebih dari 1,5 juta.
Asus Zenfone Live L1 cocok banget untuk aku yang gemar foto-foto, dukungan Artificial Intelligence kameranya asyik banget sih. Walau tentunya aku masih kudu banyak latihan ambil gambar dulu biar hasil foto lebih kece. Setelah ini bakal lebih pede travelling kemana-mana, kan ada Asus Zenfone Live L1 nih. Pingin kembali menyusuri pantai-pantai di Jogjakarta.
Yuk ah, #2019gantihp.





Comments
Post a Comment