Progress Penerapan Manajemen Kualitas Pada Perusahaan Konstruksi di Indonesia
1.
Pendahuluan
Laju pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi seperti
sekarang ini membuat tingkat kebutuhan akan pembangunan semakin banyak. Hal ini
terjadi khususnya di daerah-daerah yang sedang berkembang. Keperluan
pembangunan menjadi suatu kebutuhan, baik untuk pembangunan perumahan,
fasilitas umum, ataupun yang lainnya yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Perusahaan-perusahaan konstruksi yang ada tentunya akan
semakin banyak dan bersaing ketat dalam mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi
kebutuhan pembangunan ini. Akan tetapi pada saat ini penunjukkan perusahaan konstruksi, baik pada instansi swasta maupun pemerintah, harus
melalui proses tender dan biasanya terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, antara lain yaitu perusahaan harus telah tersertifikasi ISO 9001 (mutu), ISO 14001 (lingkungan), OHSAS 18001 (K3), dan
lainnya. Dalam hal mutu, Departemen Pekerjaan Umum menyatakan persyaratan tersebut
dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.04/Prt/M/2009, tanggal 16 Maret 2009 tentang
Sistem Manajemen Mutu (SMM) yang terdiri dari 10 Bab 20 Pasal.
Persyaratan mutu tersebut dibutuhkan untuk memastikan hasil
yang dikerjakan sesuai dengan yang diinginkan. Hal ini tentu saja harus
dipenuhi oleh perusahaan konstruksi karena sudah menjadi persyaratan
bisnis atau usaha. Bagi perusahaan konstruksi yang kurang menanggapi
persyaratan tersebut lambat laun akan tertinggal dan gulung tikar. Dengan
demikian, penerapan aturan tersebut bersifat penting, di samping membantu
perusahaan-perusahaan konstruksi untuk semakin memperbaiki diri, juga dapat
meningkatkan kepuasan pelanggan. Jika pelanggan puas, maka permintaan akan
meningkat dan demikian seterusnya, hingga didapat siklus permintaan dan
penawaran yang sehat dan kondusif.
Essay ini akan mencoba
mengulas tentang bagaimana implementasi manajemen mutu berbasis ISO 9001 pada perusahaan
konstruksi di Indonesia, seberapa pentingkah penerapan tersebut, serta manfaat
dan kendala yang mengikutinya.
2.
Pembahasan
Pada dasarnya, pengertian mutu dalam konteks
industri jasa konstruksi dapat didefinisikan melalui berbagai pendekatan,
tetapi pada prinsipnya adalah conformance to requirement, yaitu hasil
yang dikerjakan sesuai dengan apa yang disyaratkan atau yang distandarkan.
Pengelolaan mutu dapat dijalankan melalui Total Quality Management (TQM),
yang sesungguhnya merupakan payung dari segala sistem manajemen mutu yang ada,
karena TQM mencakup segala aspek kegiatan kontraktor yang harus dikelola dengan
benar agar mutu hasil kerjanya memuaskan pemilik proyek. ISO 9001 merupakan
salah satu sistem manajemen mutu yang berprinsip pada TQM. Sistem ini sangat
popular karena penerapannya mendetail dan sistematis. Selain itu, di dalamnya
terdapat keharusan pengawasan mutu internal secara periodik (Internal
Quality Audit). Pada saat ini, ISO 9001:2008 menjadi pilihan utama bagi
kontraktor yang ingin menerapkan sistem manajemen mutu secara konsisten dan
sistematis (Wiryodiningrat, 1997).
2.1.
Pengertian
ISO 9001
ISO 9001 (“Quality
Management System – Requirements”), berisikan standard yang
diterbitkan oleh organisasi internasional yang mencakup persyaratan manajemen
mutu yang harus dipenuhi dalam penerapan sistem manajemen mutu. Sistem
pendekatan mutu yang terdapat di dalam ISO 9001 lebih menekankan pada
pendekatan proses.
ISO 9001 merupakan sertifikasi yang berorientasi
pada layanan pelanggan dan standar manajemen mutu yang diadopsi pada tahun 2000
oleh International Organization for Standardization (ISO). Menurut standar ini,
sebuah organisasi harus menunjukkan kemampuan untuk memenuhi atau melampaui
kepuasan pelanggan dalam hal fungsi produk, kualitas dan kinerja. Sistem ini
telah terbukti sebagai sebuah sistem yang secara efektif dan efisien dapat
menjaga dan meningkatkan mutu sebuah organisasi.
| The ISO 9000 Family sumber : Quality Management System, Lead Auditor Training Course, SGS-Indonesia |
Beberapa klausul yang terdapat di dalam ISO (dalam hal ini kami menuliskan klausul yang ada pada ISO 9001:2008) adalah sebagai berikut :
a.
Klausul 1. Ruang
lingkup
Dalam
klausul ini secara persyaratan persyaratan standar telah menekankan untuk memenuhi
kepuasan pelanggan.
b.
Klausul 2.
Referensi Normatif
Klausul
ini hanya memuat referensi-referensi yang harus dipersiapkan oleh kontraktor
yaitu:
· Peraturan
Pemerintah
· Buku-buku
panduan tentang kualitas
c.
Klausul 3.
Istilah dan Definisi
Klausul
ini menyatakan bahwa istilah dan definisi-definisi yang diberikan dalam ISO 9001:2008
menetapkan, mendokumentasikan, melaksanakan, memelihara langkah – langkah untuk
implementasi sistem manajemen kualitas ISO 9001:2008 dan kebutuhan peningkatan terus menerus.
d.
Klausul 4.
Sistem Manajemen Mutu
Klausul
ini berisi persyaratan umum, manual mutu, pengendalian dokumen dan pengendalian
rekaman.
e.
Klausul
5.Tanggung jawab Manajemen.
Klausul
ini menekankan pada komitmen manajemen puncak (top management commitment). Dalam hal fokus pelanggan manajemen
puncak harus menjamin bahwa persyaratan pelanggan telah ditetapkan dan dipenuhi
dengan tujuan peningkatan kepuasan pelanggan.
f.
Klausul 6.
Manajemen Sumber Daya
Penyediaan
sumber daya suatu organisasi harus menetapkan dan memberikan sumber-sumber daya
yang diperlukan secara tepat untuk menerapkan dan mempertahankan sistem manajemen
kualitas ISO 9001:2008 serta meningkatkan efektivitasnya terus menerus dan meningkatkan
kepuasan pelanggan.
g.
Klausul 7.
Realisasi produk
Dalam
hal perencanaan realisasi produk organisasi harus menjamin bahwa proses realisasi
produk berada di bawah pengendalian,agar memenuhi persyaratan produk.
h.
Klausul 8.
Pengukuran analisis dan peningkatan
Persyaratan
umum dalam Klausul 8 tentang pengukuran analisis dan peningkatan, dimana organisasi
harus menetapkan rencana-rencana dan menerapkan proses-proses pengukuran, pemantauan,
analisis dan peningkatan yang diperlukan agar menjamin kesesuaian dari produk.
2.2.
Manfaat
penerapan ISO 9001
Manfaat dari penerapan ISO 9001 telah diperoleh
banyak perusahaan diantaranya sebagai berikut (Gaspersz, 2001):
a. Meningkatkan
kepercayaan dan kepuasan pelanggan melalui jaminan kualitas yang terorganisasi
dan sistematik.
b. Perusahaan
yang telah bersertifikat ISO 9001 diijinkan untuk mengiklankan kepada media
massa.
c. Meningkatkan
kualitas dan produktivitas dari manajemen melalui kerjasama dan komunikasi yang
lebih baik.
d. Meningkatkan
kesadaran kualitas dalam perusahaan.
2.3.
Implementasi
ISO 9001 pada perusahaan konstruksi di Indonesia
Penerapan ISO 9001 pada
bidang usaha kontraktor merupakan hal yang sangat penting dalam upaya mencapai
suatu tujuan, yaitu untuk menuju perbaikan yang terus menerus (continual
improvement), dan proses bisnis yang selalu fokus pada pelanggan (customer
focus) serta untuk mendapatkan mutu produk yang konsisten (consistency
product). Proses implementasi ISO 9001 pada industri konstruksi menggunakan
pendekatan khusus yang berbeda dengan pendekatan ISO 9001 pada industri
manufaktur yang bersifat masal, job shop
ataupun batch. Berikut ini adalah contoh
langkah penerapan ISO 9001 pada perusahaan kontraktor :
a. Pertama,
implementasi ISO 9001 harus dimulai dengan intrepretasi
Klausul ISO 9001 pada proses bisnis industri konstruksi. Langkah ini
menjadi dasar yang menentukan apakah sebuah sistem akan berjalan secara efektif
dan efisien atau tidak. Apabila konsultan ISO 9001 gagal secara jitu
mengeksekusi langkah ini, maka industri kontraktor akan sulit memperoleh
manfaat implementasi ISO 9001.
Proses bisnis
kontraktor memiliki karakter yang unik. Beberapa pertanyaan mendasar yang harus
diajukan & harus mampu dijawab oleh kontraktor adalah: Apa karakteristik/
spesifikasi proyek yang diinginkan oleh pemberi kerja/ pelanggan (Quality, Cost, safety, & Delivery)?
Bagaimana proses bisnis dalam merealisasi produk akhir dalam hal ini bangunan
konstruksi? Apa saja critical process
yang mungkin berpengaruh pada kualitas produk akhir? Apakah sertifikasi manajer
proyek dibutuhkan, atau hanya sertifikasi kompetensi operator peralatan yang
dibutuhkan? Bagaimana mekanisme pengendalian operasi serta mutu proyek? Bagaimana
seleksi & evaluasi suplier ataupun subkontraktor dilakukan? Dengan
dipahaminya proses bisnis kontraktor tersebut maka dapat dengan mudah melakukan
business process mapping dengan klausul
ISO 9001.
b.
Kedua,
setelah intrepretasi standar ISO 9001 dilakukan dan diketahui titik peletakan
persyaratan ISO 9001 pada proses bisnis kontraktor, langkah selanjutnya adalah pengembangan Sistem Manajemen Mutu.
Sistem Manajemen Mutu yang disusun akan mengatur mengenai tanggung jawab
manajemen puncak, manajemen sumber daya yang meliputi SDM, sarana dan prasarana,
serta lingkungan proyek. Proses realisasi jasa yang terdiri atas pengaturan
proyek dimulai dari penyusunan rencana mutu proyek, survey, pelaksanaan
pembangunan, penunjukkan subcontractor, inspeksi hingga serah terima, serta
sistem continual improvement. Selain
itu, sistem manajemen mutu juga mengatur mengenai persyaratan dokumentasi atau
pengarsipan yang harus dijalankan oleh kontraktor.
Implementasi
sistem manajemen mutu harus dilakukan secara menyeluruh ke seluruh perusahaan
baik pekerja yang berada di kantor pusat, kantor cabang, office maupun di
proyek. Implementasi sistem manajemen mutu pada kontraktor dapat dimulai dengan
sosialisasi ke perwakilan tiap bagian, kemudian dilakukan secara berjenjang
hingga keseluruhan proyek.. Diharapkan dengan adanya sosialisasi tersebut semua
elemen perusahaan dapat aware
terhadap implementasi ISO 9001. Seluruh elemen perusahaan diharuskan menggunakan
& menjalankan sistem yang telah dikembangkan pada tahap sebelumnya. Sebagai
contoh, dalam penyusunan rencana mutu proyek maka manajer proyek harus
berpedoman pada prosedur terkait. Begitupun dengan elemen lainnya.
c. Ketiga,
setelah implementasi dilakukan, kontraktor harus melakukan kegiatan audit mutu internal serta dilanjutkan
dengan rapat tinjauan manajemen. Kegiatan audit mutu internal bertujuan untuk
memastikan apakah sistem berjalan secara efektif atau tidak. Hasil audit
dibahas dalam rapat tinjauan manajemen untuk dapat diputuskan langkah perbaikan
guna persiapan peraihan pengakuan internasional terhadap sistem mutu ISO 9001
ataupun pencapaian program peningkatan mutu proyek.
Tidak hanya dalam
bidang usaha kontraktor saja proses implementasi ISO 9001 tersebut bernilai
penting. Pada bidang usaha konsultan, baik konsultan perencana maupun konsultan
pengawas, hal tersebut juga perlu diterapkan. Proses konstruksi berawal dari
konsultan perencana yang menghasilkan desain dan gambar kerja, kemudian diserahkan
kepada kontraktor pelaksana untuk dapat dilakukan pembangunan sesuai dengan
spesifikasi yang telah ditetapkan oleh konsultan dan owner, serta dengan dibantu inspeksi menyeluruh dari konsultan
pengawas.
Untuk mendapatkan mutu
/ kualitas yang continuous improvement
dan memuaskan pelanggan, maka sudah pasti sistem manajemen mutu harus
diterapkan dari hulu (konsultan perencana) hingga hilir (konsultan pengawas),
tidak mungkin hanya kontraktor saja yang menerapkan SMM tersebut. Perlu adanya
komitmen dari top management pada
tiap-tiap konsultan untuk terus menerus memperbaiki sistem manajemen mutu yang
ada pada perusahaan mereka.
2.4.
Kendala dalam penerapan ISO 9001
Namun, penerapan aturan tersebut tidaklah lepas dari kendala,
sehingga terdapat hambatan di sana sini. Berikut ini adalah beberapa faktor
yang dapat menyebabkan penerapan ISO 9001 tidak berjalan mulus, beserta solusi
untuk mengatasi agar penerapan ISO pada akhirnya dapat berjalan dengan baik :
a. Kurang komitmen dari top
management
Komitmen dari
top management merupakan salah satu
alasan terbanyak kenapa penerapan ISO 9001 tidak berjalan mulus; tidak berjalan
sama sekali atau hanya perolehan sertifikat belaka yang tidak diikuti oleh
penerapan nyata di lapangan. Ini terjadi
karena sedari awal manajemen puncak tidak mendorong tim perusahaannya untuk
benar-benar menerapkan ISO 9001. Manajemen puncak hanya ingin memperoleh sertifikat
alih-alih perbaikan sistem manajemen perusahaan, sehingga karyawan yang ada di
level pelaksana setengah-setengah dalam menerapkan ISO 9001.
Solusi : penerapan ISO 9001 harus benar-benar dipromosikan oleh manajemen
puncak, ditekankan kegunaannya serta dipromosikan manfaatnya, maka sudah pasti
orang-orang yang ada di level pelaksana akan menjalankan sistem manajemen mutu
secara konsisten.
b. Tidak ada keterlibatan dari karyawan
Pada dasarnya
karyawan mengikuti apa yang diperintahkan oleh manajemen puncak, sehingga apa
yang menjadi komitmen manajemen harusnya akan menjadi komitmen bersama yang
dipegang oleh setiap level karyawan. Sayangnya, tidak jarang ada organisasi
yang komitmen manajemen puncaknya baik tetapi tidak dibarengi oleh komitmen
bawahannya. Ini bisa terjadi karena beberapa faktor seperti tidak adanya reward and punishment bagi karyawan, sehingga
mereka merasa tidak ada bedanya antara yang berkomitmen dalam menerapkan sistem
manajemen mutu ISO 9001 dengan yang tidak melaksanakan.
Solusi : harus diakui bahwa penerapan ISO
9001 akan merubah sedikit banyak cara kerja para karyawan. Mengubah kebiasan
yang sudah dilakukan bertahun-tahun tidaklah mudah, sehingga harus ada
komunikasi yang efektif dan imbalan yang setimpal sebagai bonus untuk perbaikan
yang sudah dilakukan.
Faktor kedua
adalah kurangnya komitmen dari karyawan itu sendiri. Ada beberapa karyawan yang
anti perubahan. Dalam arti, tidak ingin mengubah cara kerja lamanya yang kurang
efektif menjadi cara kerja baru yang lebih efektif. Biasanya kasus ini terjadi pada karyawan
senior yang telah bekerja sangat lama di perusahaan tersebut.
Solusi : karyawan yang seperti ini harus
diajak diskusi baik-baik dan dijelaskan pentingnya menerapkan ISO 9001 bagi
perusahaan. Bila pada titik tertentu dimana karyawan yang seperti ini tidak
juga ingin berubah, maka melakukan rotasi atau mutasi sepertinya sebanding demi
perbaikan sistem secara menyeluruh.
c. Kordinasi antar departemen yang minim
Penerapan ISO
9001 tidak akan sukses apabila satu bagian tidak berkordinasi dengan bagian
yang lain. Karena sistem manajemen mutu melibatkan semua bagian yang ada di
proses utama maupun proses pendukung. Bila ada satu bagian yang tidak
menerapkan ISO 9001, maka otomatis sistem tidak akan berjalan dengan sempurna.
Misalkan target produksi yang sudah dicanangkan oleh manajer produksi tidak
akan tercapai bila bagian HRD dan GA tidak menyediakan SDM dan mesin serta
peralatan yang prima.
Solusi : harus ada kordinasi efektif antar
bagian agar keseluruhan proses berjalan secara lancar.
d. Keterbatasan waktu
Keterbatasan
waktu seringkali menjadi kambing hitam atas penerapan yang tidak lancar.
Banyaknya proyek, membludaknya order, seringkali membuat penerapan ISO 9001
terabaikan. Padahal bila perbaikan sistem disesuaikan dengan kebutuhan,
harusnya overload pekerjaan sama
sekali tidak akan mempengaruhi penerapan ISO 9001. Penyebab utama yang menyebabkan hal ini
adalah sistem yang dibuat tidak sejalan (in
line) dengan proses yang ada. Terlalu banyak hal baru yang ditetapkan tanpa
melihat kesanggupan para pelaksana di lapangan sehingga form yang harusnya
dibuat untuk membantu proses malah mempersulit birokrasi.
Solusi : Diperlukan
kejelian dalam menentukan prioritas perbaikan. Perlu diingat kembali bahwa
tujuan penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001 adalah perbaikan
berkesinambungan, bukannya menyulap sistem dalam sekejap. Diperlukan waktu,
pembiasaan, sosialisasi, dan prioritas perbaikan secara bertahap sehingga
sistem semakin baik dari waktu ke waktu.
e.
Keterbatasan
sumber daya manusia (SDM)
Keterbatasan SDM di sini bisa berupa kuantitas (jumlah karyawan)
maupun kualitas (kompetensi karyawan). Dalam penerapan ISO 9001, kualitas SDM
lebih penting daripada kuantitas. ISO 9001 tidak pernah mensyaratkan jumlah
minimal karyawan dalam penerapan ISO 9001. Tidak pula dipersyaratkan bahwa satu
orang hanya boleh menjabat satu jabatan saja. Rangkap jabatan dalam penerapan
ISO sah-sah saja sepanjang fungsi-fungsi pekerjaan yang wajib dijalankan oleh
yang bersangkutan dapat dijalankan dengan baik.
Solusi : isu
keterbatasan SDM dapat diatasi dengan menunjuk wakil manajemen (management representative) yang
berkualitas, yaitu yang dapat mengendalikan, mengarahkan, dan memanfaatkan SDM
yang ada secara optimal. Seringkali ditemukan fakta bahwa banyaknya jumlah SDM
tidak berkolerasi positif dengan kualitas penerapan ISO 9001. Artinya, SDM yang
sedikit namun berkualitas lebih baik daripada banyak SDM tetapi tidak memiliki
komitmen dalam penerapan ISO 9001.
f.
Kurangnya
sosialisasi dan komunikasi
Merubah sebuah sistem yang telah berjalan cukup lama tidaklah
semudah membalikkan telapak tangan. Tentu saja dibutuhkan waktu yang cukup dan
tim yang handal agar penerapan ISO 9001 berjalan lancar. Seringkali yang
menjadi penyebab ISO 9001 macet di tengah jalan bukanlah keterbatasan waktu dan
SDM melainkan kurangnya sosialisasi dan komunikasi dari manajemen puncak. Ini
menyebakan orang-orang yang ada di level pelaksana tidak mengetahui apa yang
harus dilakukan.
Solusi : manajemen
puncak harus melakukan pertemuan rutin (mingguan atau bulanan) terutama dengan
pemimpin dari setiap bagian untuk memastikan mereka memahami apa yang harus
dilakukan.
3.
Penutup
Penerapan aturan Sistem
Manajemen Mutu berbasis ISO 9001 dalam industri konstruksi di Indonesia perlu
terus didukung dari semua elemen pendukung pada sebuah perusahaan, mulai dari top management, middle management, level pelaksana hingga karyawan di level paling
bawah demi mendapatkan pengembangan mutu yang berkelanjutan. Standarisasi
tersebut perlu diadakan dari hulu ke hilir, yaitu dari konsultan perencana,
kontraktor pelaksana hingga konsultan pengawas, sehingga tercipata perbaikan
mutu yang menyeluruh. Berbagai solusi terhadap kendala yang muncul pada
implementasi ISO 9001 sebisa mungkin dapat digunakan sebagai langkah
penyempurnaan pencapaian tujuan sistem manajemen mutu berbasis ISO 9001.
Daftar
Pustaka
Santosa, Made Arya Wira,
Widhiawati, A. Rai, Diputra, Gede Astawa, 2013, “Penerapan Standar Sistem Manajemen Mutu (ISO) 9001:2008 pada Kontraktor PT.
Tunas Jaya Sanur (studi kasus : proyek pembangunan apartment & shopping
arcade sea sentosa hotel), Jurnal Ilmiah Elektronik Infrastruktur Teknik
Sipil, Volume 2, No. 1
http://konsultaniso.web.id/sistem-manajemen-mutu-iso-90012008/kendala-dalam-menerapkan-iso-9001/
http://www.amazine.co/25840/apa-itu-sertifikasi-iso-9001-definisi-konsep-manfaatnya/
http://www.slideshare.net/herryghermawan/permen-04-sistem-manajemen-mutu-terkait-penyedia-jasa-konstruksi
Comments
Post a Comment