Monster itu bernama GERD (part 1)
Kala itu, maret 2009 kalau tidak salah, saya
memutuskan untuk resign dari tempat kerja karena alasan klise : fee nya kurang sumbut sama kerjanya. Belakangan saya
baru sadar kalau itu adalah tempat yang telah berhasil memaksa saya
mengeluarkan segala potensi di dunia arsitektur, yang sayangnya tidak saya sadari selama
kuliah 5,5 tahun. Tau kan ya..gimana arogansi gadis usia 25 tahun yang merasa
sudah melek banyak hal, sekali nggak
merasa worth it, ya udah cabut saja.
Teringat wajah lesu si boss ketika saya pamitan.
Pastinya itu bukan karena beliau merasa sedih saya tinggal, tapi lebih karena awang-awangen harus merekrut karyawan
baru lagi dan harus ngajarin lagi, hehe..
| sebelum resign |
Mama tidak banyak kasih masukan, karena beliau paham
betul sifat saya yang susah dikasi masukan alias keras kepala. Kalau sudah
memutuskan sesuatu susah dikasi pertimbangan sana sini. Dibilang sembrono ya
bisa, dibilang intuisinya gede banget ya boleh. Saya berani keluar hanya karena
sudah mengantongi tawaran kerja sebagai pengawas proyek sistem kontrak oleh salah
satu rekan kerja. Freelancer, profesi yang sebenarnya sudah saya geluti dari
sejak kuliah. Tapi kalau saat itu saya berpikir lebih matang, mungkin saya akan
mengulur waktu untuk resign. Karena ternyata harapan tak sesuai kenyataan.
Rutinitas freelancer dengan pekerja kantoran jelas berbeda.
Bodohnya saya, 1 bulan setelah merasakan kerja sebagai freelancer proyek, saya
mengeluh. Yang saya ingat, waktu itu saya merasa useless. Yang biasanya
kerja non stop dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, dan seringnya lembur sampai
jam 8-9 malam, sekarang jadi berubah drastis. Berangkat ke proyek agak siangan,
sebelum sore udah duduk manis di rumah, di depan laptop menyelesaikan laporan
proyek. Ironisnya, dulu saya keluar karena merasa fee nya kurang, sekarang justru terjebak dalam rutinitas yang “menyiksa” plus gaji yang jauh berkurang (theme
song : manusia bodoh by Ada Band).
Sampai suatu hari, seperti biasa saya naik sepeda
motor kesayangan ke proyek. Di tengah perjalanan saya merasa dada sebelah kiri terasa tidak
nyaman. Saat itu saya tidak menghiraukannya, tetap bekerja seperti biasa. Namun,
sensasi tidak nyaman itu terus berulang dalam beberapa hari ke depan. Sampai
suatu malam, jantung tiba-tiba terasa tertekan diiringi dengan keringat dingin
yang mulai mengucur. Panik, saya berlari ke mama sambil mengeluh (ketauan deh
kalo dulu anak mama banget).
Mama mulai cemas, segera minta tolong kakak saya untuk
mengambilkan obat yang dipercaya bisa memulihkan tenaga atau setidaknya bisa
membuat gejala tidak nyaman ini mereda. Segera saya minum, beberapa saat
setelah itu, sensasi tidak nyaman di dada mulai mereda, tapi ganti acara,
jantung saya berdebar super cepat, lebih cepat dari detik jam! Panik lagi,
akhirnya mama membawa saya ke rumah sakit terdekat.
Singkat cerita, dokter mengatakan bahwa saya baik-baik saja. Hellow? Baik-baik saja dari Hongkong? Lha yang tadi itu apaan coba? Saya
ingin bertanya lebih jauh, tapi sang dokter terlihat super sibuk, ya sudahlah, saya memilih untuk segera pulang, ingin tidur yang nyaman. Sesampainya di rumah, saya minum obat yang diresepkan, yaitu untuk meredakan asam lambung (waktu itu saya belum ngeh, sakitnya di jantung, kenapa obatnya untuk lambung?) dan kemudian segera meringkuk di kasur. Satu jam dua jam berlalu saya tak kunjung terlelap. Degup jantung saya terasa begitu keras, sampai rasanya sulit sekali untuk tidur. Entah bagaimana akhirnya saya bisa tertidur.
Sejak malam itu, saya mulai berkenalan dengan yang namanya anxiety disorder. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan bakal menghampiri saya. Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, apa penyebabnya, bagaimana prosesnya. Yang saya ingat jelas, saat itu saya merasa tidak mengenali diri saya sendiri. Selama ini saya merasa powerful. Tidak ada yang bisa menghalangi kemauan saya. I was lived with my own rules. Ketika fisik diuji dengan sakit, itu pukulan yang cukup telak bagi saya yang sama sekali tidak pandai bersyukur.
--- bersambung ke Part 2 ---
Sejak malam itu, saya mulai berkenalan dengan yang namanya anxiety disorder. Sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan bakal menghampiri saya. Saya tidak tahu mengapa ini terjadi, apa penyebabnya, bagaimana prosesnya. Yang saya ingat jelas, saat itu saya merasa tidak mengenali diri saya sendiri. Selama ini saya merasa powerful. Tidak ada yang bisa menghalangi kemauan saya. I was lived with my own rules. Ketika fisik diuji dengan sakit, itu pukulan yang cukup telak bagi saya yang sama sekali tidak pandai bersyukur.
--- bersambung ke Part 2 ---
Comments
Post a Comment